Saturday, November 21, 2015

Cerpen Pacar Pertama dan Puisi Hujan

PACAR PERTAMA


K
EBUN belakang rumah peninggalan Mas Amal menghadap ke sebuah empang kecil. Dulu, di seberang empang itu belum dibangun perumahan, kanan kirinya masih sawah. Dengan begitu, hampir setiap sore kami bisa menyaksikan matahari “angslup”, tenggelam, bulat badannya habis ditelan pematang.
Sepuluh tahun setelah peringatan seribu hari suamiku itu, sebuah pengembang menguruk tanah becek tempat bulir-bulir padi berasal dengan komposit perkerasan, lalu membangun di atasnya kluster-kluster yang menyusun sebuah ekosistem baru bernama kota mandiri. Matahari masih terbenam di tempat yang sama, hanya saja kini lebih menyerupai kartu pos berwarna oranye pucat— yang biasa Mas Amal beli untuk menulis jawaban teka-teki silang, dan pagar batako yang memagari kawasan itu menjadi garis bibir bis surat raksasa.
Empangnya masih ada, suamiku membelinya. Dalam wasiatnya tertulis, “Danau kecil ini kado ulang tahun buatmu, Sita. Maafkan aku tidak bisa menemanimu lebih lama.”
Ia meninggal karena kanker, pada hari ulang tahun pernikahan kami kedua belas, tepat di umurku yang ketiga puluh dua. Seingatku sejak itu, lebih dari sepuluh kali, bolak-balik orang suruhan perusahaan properti merayuku agar menjual tanah berkolam itu, setiap tahun nilai tawarannya selalu meningkat. Barangkali, tanpa empang itu, peta lokasi real estat-nya jadi kurang sempurna karena ada garis menjorok bila dilukiskan di atas kertas brosur. Atau mungkin ada emas di dasar genangan airnya bila digali sehingga pengembang mau menebusnya dengan harga sangat tinggi. Entahlah, yang jelas aku bersikeras tak melepasnya untuk nominal berapa pun. Dan tampaknya mereka sudah merekrut insinyur yang lebih pintar, yang ahli merencanakan site plan untuk kondisi lahan apa pun.
Belakangan, datang seorang lelaki berkulit legam, memintaku mengizinkannya menebar benih mujair di sana dan merawat tanaman di sekelilingnya, sekadar sebagai kenangan di masa lalu bahwa sebidang tanah itu pernah jadi miliknya. Aku tak keberatan karena bekas tuan tanah itu pun tak keberatan menjadi tukang kebunku. Diko—anakku semata wayang—dan Adrian, sahabatnya, senang sekali bermain di sana. Pak Us, demikian kami memanggilnya, mengajari mereka memancing, tapi dia akan mengamuk dan mogok bicara bila kedua bocah itu melakukan hal yang dilarangnya dengan keras: berenang di sana. Bagi Diko dan Adrian, hal itu kemudian menjadi tantangan tersendiri, bagaimana bisa berenang sepuas-puasnya tanpa Pak Us mengetahui. Ingatanku masih merekam tawa gaduh mereka saat menyadari Pak Us tak semudah itu dikelabui.
Di kebun belakang ini aku biasa menghabiskan waktu menulis, memeriksa naskah soal dan hasil ujian mahasiswa, mengeringkan daun-daun herbarium, memanggang sosis untuk pesta kebun Diko, dan—dulu, dulu sekali—membantunya memasang pasak tenda backyard camp bersama teman-temannya hampir tiap akhir pekan. Di sini aku duduk-duduk menunggu sunset show, kadang bersama Diko, adakalanya bersama ibu-ibu tetangga arisan PKK, lain waktu bersama kolega-kolegaku. Di sini pula setelah bocah-bocah itu beranjak remaja aku biasa mendengarkan cerita-cerita Diko dan Adrian tentang gadis-gadis yang mereka incar, ada beberapa yang nyaris jadi pacar, ada pula yang mati-matian menghindar. Kukatakan, “Bodoh sekali gadis-gadis itu menampik pemuda setampan kalian.”
Diko tersipu, Adrian terbahak. Ia meniru Diko memanggilku Mama, bukan dengan sebutan “tante” seperti umumnya. Sebagai sahabat, Adrian tahu banyak tentang rahasia Diko, dari Adrian juga seringnya aku mendapat informasi kepada siapa anak jejakaku itu jatuh cinta atau karena siapa ia patah hati.